BBM AMM Buleleng: Menjadi Hawariyun Zaman Kini bersama Ketua PDM Buleleng

Buleleng — Setiap Ahad malam, Masjid Al-Manar Perguruan Muhammadiyah Buleleng dipenuhi suasana hangat. Anak-anak muda, kader, hingga simpatisan Muhammadiyah berkumpul dalam forum BBM (Bincang-Bincang Muhammadiyah) yang rutin digelar oleh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Buleleng.
Forum ini bukan sekadar acara berbagi gagasan, melainkan ruang dialog spiritual dan ideologis. Di sinilah para kader muda Muhammadiyah ditempa, dikuatkan, dan dituntun untuk menemukan identitas diri sebagai bagian dari gerakan Islam berkemajuan.
Pada edisi kali ini, BBM terasa lebih istimewa karena menghadirkan langsung Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Buleleng, H. Muhammad Ali Susanto, M.Pd, yang sejak 2022 dipercaya memimpin Muhammadiyah Buleleng periode 2022–2027.
Hawariyun: Inspirasi dari Al-Qur’an
Dalam tausiyahnya, H. Muhammad Ali Susanto mengangkat semangat Hawariyun, para penolong agama Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an. Ia mengutip firman Allah dalam QS Ali Imran: 52:
“Kami adalah penolong-penolong agama Allah, kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri.”
Ayat ini menjadi pijakan utama diskusi malam itu. Menurut beliau, Hawariyun adalah simbol kesetiaan, pengabdian, dan keberanian dalam menegakkan risalah Islam. Mereka tidak sekadar pengikut, melainkan pejuang yang siap membela Nabi Isa ‘alaihissalam dengan segala konsekuensinya.
“Hari ini, kita semua dipanggil untuk menjadi Hawariyun zaman kini. Menjadi penolong agama Allah di tengah tantangan modernitas, di tengah derasnya arus materialisme dan krisis moral. Muhammadiyah adalah ladang perjuangan kita, wadah untuk mengamalkan semangat Hawariyun itu,” ujar Ali Susanto.
Dua Nilai Utama: Kesadaran Tujuan & Kesabaran Perjuangan
Dalam penjelasannya, Ketua PDM Buleleng merumuskan semangat Hawariyun ke dalam dua nilai utama yang relevan dengan kondisi kader muda Muhammadiyah saat ini:
1. Kesadaran Tujuan Hidup
Menjadi kader Muhammadiyah bukan sekadar mengikuti organisasi, melainkan menjadikan Muhammadiyah sebagai ladang amal dan ruang pengabdian kolektif. Gerakan ini adalah wahana dakwah produktif, tempat menyalurkan energi muda untuk memberi manfaat nyata bagi umat dan bangsa.
“Kader Muhammadiyah harus punya visi yang jelas. Hidup ini singkat. Mari gunakan waktu kita untuk amal yang meninggalkan jejak. Muhammadiyah menyediakan jalan itu, dari pendidikan, kesehatan, hingga dakwah kultural, semua bisa menjadi pintu ladang amal,” tegas Ali Susanto.
2. Kesabaran dan Keteguhan Perjuangan
Perjalanan dakwah tidak selalu mudah. Tantangan, godaan, bahkan ujian kerap menghadang. Namun, kader dituntut untuk menikmati proses dakwah dengan istiqamah, menapaki jalan panjang perjuangan dengan sabar dan teguh.
“Kesabaran adalah senjata. Kita tidak boleh mudah menyerah. Justru dalam kesulitan, iman dan idealisme kita diuji. Hawariyun zaman kini adalah mereka yang tetap berdiri tegak meski dihadang badai,” tambahnya.
Nilai inilah yang menjadi penopang bagi AMM Buleleng untuk terus berkegiatan, meski dengan segala keterbatasan.
BBM: Lebih dari Sekadar Diskusi
Forum BBM memang dikemas sederhana. Jamaah duduk lesehan, ditemani suguhan snack ringan. Namun, yang utama bukanlah hidangan perut, melainkan hidangan ruhani dan hikmah.
Setiap sesi BBM menghadirkan pembicara yang memberi pencerahan. Kadang berupa materi ideologi, kadang refleksi dakwah, kadang juga inspirasi gerakan sosial. Pola ini menjadikan BBM sebagai ruang pembinaan kader yang alami: diskusi cair, tidak kaku, namun tetap sarat nilai.
Bagi AMM Buleleng, BBM adalah ajang konsolidasi kader. Forum ini memfasilitasi kader muda untuk:
- Mengasah ideologi Muhammadiyah, agar tidak tercerabut dari akar gerakan.
- Melatih kepemimpinan dan komunikasi, dengan tampil sebagai moderator, notulen, atau pemantik diskusi.
- Menguatkan ukhuwah, karena setiap pekan bertemu untuk berbagi pengalaman dan semangat.
- Menyemai kesadaran sosial, dengan membicarakan isu-isu aktual yang dihadapi masyarakat Buleleng dan Bali pada umumnya.
“BBM bukan sekadar diskusi, tetapi madrasah kader. Di sinilah kita belajar menjadi Hawariyun zaman kini, pelita yang memancarkan cahaya harapan,” ungkap salah seorang peserta.
Menghidupkan Tradisi Dakwah Kolektif
Muhammadiyah menekankan pentingnya amal jamai, amal kolektif yang dilakukan bersama-sama. BBM menjadi wujud nyata tradisi itu di Buleleng.
Di tengah kesibukan anak muda dengan studi, pekerjaan, dan aktivitas pribadi, forum ini menjadi pengingat bahwa hidup bersama jamaah jauh lebih bermakna.
Ali Susanto menegaskan:
“Dakwah tidak bisa dilakukan sendirian. Dakwah harus berjamaah, harus berorganisasi. Muhammadiyah adalah rumah kita, tempat kita menyatukan langkah. Jangan pernah merasa sendiri. Kader adalah keluarga.”
Pesan ini memperkuat kesadaran bahwa menjadi Hawariyun zaman kini bukan berarti berjuang sendiri, tetapi menjadi bagian dari barisan.
Relevansi Hawariyun di Era Modern
Mengapa konsep Hawariyun relevan di era sekarang? Sebab tantangan umat Islam tidak lagi sekadar fisik, tetapi juga ideologis dan kultural.
- Arus globalisasi melahirkan hedonisme dan individualisme.
- Digitalisasi membawa deras informasi, namun juga ancaman disinformasi dan degradasi moral.
- Krisis lingkungan dan sosial menuntut peran aktif pemuda dalam advokasi dan pemberdayaan.
Dalam kondisi ini, Hawariyun zaman kini adalah mereka yang mampu:
- Menjadi penolong agama Allah di dunia digital, menciptakan konten positif dan edukatif.
- Menguatkan komunitas lokal, menjaga nilai-nilai gotong royong dan solidaritas.
- Menjaga integritas pribadi, tetap jujur, amanah, dan istiqamah meski dunia menawarkan jalan pintas.
AMM Buleleng: Motor Penggerak Kaderisasi
Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) yang terdiri dari IPM, IMM, Pemuda Muhammadiyah, dan Nasyiatul Aisyiyah, memiliki posisi strategis sebagai motor kaderisasi.
Di Buleleng, AMM berhasil memadukan semangat keagamaan dengan kepedulian sosial. BBM menjadi salah satu instrumen kaderisasi yang paling efektif, karena menghubungkan nilai ideologis dengan realitas kehidupan sehari-hari.
“Dengan forum seperti BBM, kader muda tidak lagi mencari-cari alasan untuk absen dari kegiatan organisasi. Mereka tahu ada ruang yang ramah, akrab, dan penuh hikmah untuk tumbuh bersama,” kata salah seorang penggerak AMM.
Cahaya Harapan dari Masjid Al-Manar
Masjid Al-Manar Perguruan Muhammadiyah, tempat diselenggarakannya BBM, menjadi saksi tumbuhnya generasi muda penuh idealisme. Dari masjid ini, lahir gagasan, tekad, dan semangat untuk membangun masyarakat berkemajuan.
Malam itu, selepas tausiyah dan diskusi, jamaah pulang dengan wajah sumringah. Bukan karena snack yang disajikan, melainkan karena energi spiritual dan ideologis yang menyala.
“Ini bukan sekadar forum mingguan. Ini adalah jalan menuju peradaban. Setiap Ahad malam kita ditempa agar besok lebih siap menghadapi dunia,” tutur seorang kader muda sambil tersenyum.
Menjadi Hawariyun Zaman Kini
BBM AMM Buleleng edisi bersama Ketua PDM Buleleng, H. Muhammad Ali Susanto, M.Pd, membuktikan bahwa forum sederhana dapat melahirkan dampak besar.
Dari semangat Hawariyun, para kader belajar bahwa hidup harus berlandaskan kesadaran tujuan dan kesabaran perjuangan. Dari diskusi ringan, lahir tekad besar untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai rumah pengabdian.
Muhammadiyah Buleleng, melalui AMM, menegaskan bahwa kaderisasi tidak boleh kering dari ruh spiritual. Sebab tanpa ruh itu, organisasi hanya menjadi struktur kosong.
Dengan BBM, AMM Buleleng telah menghadirkan wadah yang membentuk kader sebagai Hawariyun zaman kini — penolong agama Allah yang visioner, istiqamah, dan membawa cahaya harapan bagi umat.
“Mari hadir, mari ikut bergerak. Jadilah pelopor perubahan. Jadilah bagian dari Hawariyun masa kini bersama AMM Buleleng!”


