Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Bali Gelar Pelatihan Muballighat, Perkuat Dakwah Perempuan di Bali

Denpasar — Upaya memperkuat peran perempuan dalam syiar Islam terus dilakukan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Bali melalui Pelatihan Muballighat ‘Aisyiyah Tingkat Wilayah yang digelar pada 31 Mei hingga 1 Juni 2026 di Hotel Grand Santhi, Denpasar.

Sebanyak 64 peserta dari unsur Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah dan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah se-Bali mengikuti kegiatan ini. Pelatihan tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas kader dakwah perempuan agar mampu menjalankan peran strategis sebagai penyampai risalah Islam yang mencerahkan di tengah masyarakat.

Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Bali, Ir. Hj. Sari Prasetya Angkasa, menegaskan bahwa tantangan dakwah saat ini menuntut hadirnya muballighat yang tidak hanya memahami ajaran Islam secara mendalam, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Menurutnya, Bali sebagai daerah dengan masyarakat yang plural membutuhkan pendekatan dakwah yang penuh hikmah dan menjunjung tinggi nilai toleransi.

“Dakwah harus hadir dengan wajah yang teduh, memberi pencerahan, dan mampu membangun dialog yang harmonis di tengah keberagaman. Karena itu, muballighat ‘Aisyiyah harus terus mengasah kapasitas keilmuan dan kepekaan sosialnya,” ungkapnya dalam sambutan pembukaan.

Ia juga mengajak seluruh peserta memanfaatkan pelatihan ini sebagai ruang pembelajaran untuk memperkuat kompetensi dakwah sekaligus meneguhkan komitmen dalam menjalankan misi Persyarikatan.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, Dr. I Gusti Made Sunartha, S. Ag., MM., menyampaikan bahwa kaderisasi muballighat merupakan langkah strategis dalam mendukung penguatan moderasi beragama di Indonesia, khususnya di Bali.

Ia menilai muballighat memiliki peran besar dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang menyejukkan, terutama dalam lingkup keluarga dan komunitas.

“Perempuan memiliki kekuatan besar dalam membangun karakter umat. Kehadiran muballighat sangat dibutuhkan untuk menyampaikan nilai-nilai Islam yang damai, inklusif, dan membangun harmoni sosial,” ujarnya.

Ia berharap pelatihan ini melahirkan pendakwah perempuan yang mampu merespons persoalan umat secara cerdas dan solutif.

Sementara itu, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Bali, Drs. H. Jawas Sokan, yang secara resmi membuka kegiatan, menekankan bahwa dakwah membutuhkan kader yang memiliki kesiapan intelektual, spiritual, dan sosial.

Menurutnya, muballighat harus mampu tampil sebagai representasi dakwah Islam berkemajuan yang mencerahkan masyarakat.

“Kader muballighat harus menjadi agen perubahan. Mereka harus siap berdakwah dengan keluasan ilmu, akhlak yang kuat, dan cara penyampaian yang menyentuh hati,” pesannya.

Pelatihan ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan ‘Aisyiyah Bali dalam mencetak kader dakwah perempuan yang profesional, responsif terhadap tantangan zaman, serta mampu mengemban amanah dakwah di berbagai lini kehidupan masyarakat.

Scroll to Top