Pemuda Muhammadiyah Bali bersama Organisasi Lintas Iman di Bali Tolak Provokasi Berbasis SARA, Tanggapi Aksi Unjuk Rasa Berujung Tindakan Anarkis
Denpasar – Pemuda Muhammadiyah Bali bersama organisasi kepemudaan lintas iman menyuarakan sikap tegas menolak provokasi berbasis SARA dan ajakan anarkisme yang kian marak mewarnai dinamika sosial-politik di Indonesia. Dalam pertemuan bersama, mereka menyerukan pentingnya menjaga suasana kondusif di Bali sebagai benteng toleransi dan kerukunan nasional.
Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Bali, Abdillah Nur Ihsan, menekankan bahwa kebebasan berpendapat adalah hak yang dijamin dalam konstitusi, namun harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
“Demokrasi memberi ruang kepada rakyat untuk menyampaikan aspirasi, tetapi tidak boleh dijadikan alasan untuk anarkisme. Kami menolak segala bentuk provokasi yang hanya memperkeruh suasana dan merusak persatuan bangsa,” ungkap Abdillah.
Menurutnya, generasi muda memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga persaudaraan kebangsaan. Prinsip fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan harus menjadi panduan dalam setiap langkah. “Daripada terjebak dalam konflik dan ujaran kebencian, lebih baik kita fokus pada kerja-kerja sosial, pemberdayaan masyarakat, dan membangun masa depan bangsa,” tambahnya.
Sikap Pemuda Muhammadiyah Bali ini sejalan dengan pandangan organisasi pemuda lintas iman lainnya di Bali. GP Ansor Bali menegaskan bahwa demonstrasi adalah hak rakyat, namun aksi yang berujung anarkis justru menjauhkan dari tujuan mulia demokrasi. Pemuda Katolik menyatakan dialog sebagai jalan utama merawat persaudaraan. Sementara Pemuda Buddhis menekankan nilai cinta kasih (metta) dan tanpa kekerasan (ahimsa) dalam menyuarakan aspirasi.
Pemuda Tionghoa menyoroti pentingnya harmoni (he) sebagai dasar kehidupan bersama, sedangkan Pemuda Konghucu mengingatkan nilai peri kemanusiaan (ren) untuk menolak kebencian dan kekerasan. Pemuda Theravada menegaskan sikap damai dan bijak dalam menyampaikan pendapat, dan Angkatan Muda Kristen menolak keras segala bentuk provokasi SARA.
Kebersamaan ini menunjukkan bahwa pemuda lintas iman di Bali memiliki satu suara: menjaga kedamaian, menolak kekerasan, dan memperkuat persatuan bangsa. Mereka percaya bahwa Bali, dengan sejarah panjang toleransi dan kerukunan antarumat beragama, harus tetap menjadi teladan bagi daerah lain di Indonesia.
“Pemuda harus menjadi garda terdepan menjaga kedamaian. Kita boleh berbeda pandangan, tetapi kita tetap satu dalam cita-cita kebangsaan. Bali adalah rumah bersama, dan rumah ini harus kita rawat dengan cinta, dialog, dan kerja nyata,” tutup Abdillah.
Dengan sikap bersama ini, Pemuda Muhammadiyah Bali bersama elemen lintas iman berkomitmen memperkuat ruang dialog, mendorong kampanye anti-hoaks, serta membangun kesadaran publik agar tidak mudah terprovokasi isu-isu yang memecah belah.



